Friday, November 10, 2017

Contoh permohohonan surat aktif dan transkip nilai

Kepada Yth,
Direktur PPs IAIN Ar-Raniry
Di-
Tempat


Assalamualaikum Warahmatullah Wr, Wb
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama               : Zaki Satria
TTL                 : Cot Seurani, 31 Juli 1986
NIM                : 23111126-2
Semester          : 3 (tiga) ganjil
Kosentrasi       : Fiqh Modern
Alamat                        : Jl. Tanjung Selamat Lr. Mangga No.1 Darussalam Aceh Besar
Dengan ini mengajukan permohonan kepada bapak agar sudi kiranya mengeluarkan kepada saya:
1.      Transkrip Nilai sementara
2.      Surat Aktif Kuliah
Demikianlah surat permohonan ini saya sampaikan, atas pertimbangan bapak saya ucapkan terima kasih.




         Pemohon,

        Zaki Satria

Contoh Permohonan Penetapan Pembimbing Tesis

















                                                                   BandaAceh, 4 Maret 2013

Nomor             : Istimewa                                                  Kepada Yth : Bapak Direktur
Lampiran         : -                                                                PPs IAIN Ar-Raniry
Hal                  : Permohonan Penetapan
  Pembimbing Tesis                                  Di –
                                                                                   
Tempat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Dengan Hormat,
Salam Sejahtera, semoga Bapak dalam lindungan Allah Swt dan dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Amin.

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama                                   : Zaki Satria
NIM                                    : 23111126-2
Alamat                                : Jl. T. Selamat Lr. Mangga No.1 Darussalam Aceh Besar
Tempat dan Tanggal Lahir : Cot Seurani, 31 Juli 1986
Jenis Kelamin                      : Laki-laki
Universitas                          : S2 (PPs IAIN Ar-Raniry) Darussalam-Banda Aceh
Konsentrasi                         : Fiqh Modern
Semester                              : IV (genap)
No. Hp                                            : 085218531639

Dengan ini mengajukan permohonan kepada Bapak untuk memberikan izin  kepada Bapak Prof. Dr. H. Muslim Ibrahim, MA, sebagai Pembimbing Pertama dan Bapak Dr. Abdul Jalil Salam, MA, sebagai Pembimbing Kedua, Tesis saya mahasiswa PPs IAIN Ar-Raniry Tahun Akademik 2012/2013, saya melihat beliau berdua adalah dosen yang tepat dalam membimbing dan mengarahkan saya dalam penulisan tesis, dengan judul: Konsep Mahram dalam Safar (Kajian Pendapat al-Nawawy dan Yusuf Qardhawy).
Sebagai bahan pertimbangan Bapak turut saya lampirkan :
1.      Surat permohonan
2.      Lembaran konsultasi tesis yang telah ditanda tangani oleh dosen penguji seminar
3.      Proposal lama
4.      Proposal baru

Demikianlah surat permohonan ini saya sampaikan kepada Bapak, dengan harapan dapat terkabul hendaknya. Atas perhatian Bapak saya ucapkan terima kasih.

                                                                                                            Hormat Saya
                                                                                                            Pemohon,
                       

                                                                                                            Zaki Satria

Tuesday, November 7, 2017

Pendidikan Anak















BAB I
PENDAHULUAN


            Pembinaan ibadah menjadi penyempurna terhadap pembinaan aqidah, ibadah juga memperkaya aqidah anak-anak ketika mendengar adzan dan melaksanakan perintah Allah. dan Syaikh Ramadhan Buthi berkata: agar aqidah kita kuat, maka kita harus sering beribadah dengan bermacam-macam jenis ibadah seperti shalat, puasa dan sebagainya, dengan demikian memperkuat aqidah di hati kita.[1]
            Masa kanak-kanak bukanlah masa taklif atau yang dibebani dengan kewajiban syari’at, tetapi ia adalah masa persiapan, pelatihan dan pembiasaan sehingga sampai pada masa baligh. Untuk memudahkan mereka mengerjakan sesuatu yang wajib, dan untuk penyempurnaan persiapan dalam hidup, dengan penuh khidmat dan beribadah semata-mata karena Allah. menumbuhkan rasa khusyu’ dan menjadikannya selalu istiqamah dalam beragama, karena pada masa itu peran syahwat masih lemah, dan menjadikan jiwanya selalu dekat dengan Allah. dengan sering membaca al-Qur’an dan mendengarkannya, baik itu dalam shalat atau tidak. Mereka mendengarkan adzan pertanda waktu berbuka ketika berpuasa, terdapat rahasia-rahasia keutamaan ibadah yang tidak terhitung jumlahnya memberi bekas pada anak-anak dalam pertumbuhan kekuatan dan mentalnya oleh karena itu Nabi sangat mengutamakan pendidikan pada masa kanak-kanak ini.
Bahwasanya Rasulullah Saw. juga langsung turut serta dalam proses perkembangan anak-anak dalam beribadah kepada Allah Swt.[2]





BAB II
PEMBAHASAN


Pembinaan Ibadah Terhadap Anak
Asas Ibadah yang pertama- Shalat
1.      Tahapan mengajak anak untuk Shalat
Orang tua menyuruh anaknya untuk shalat dan mengajak shalat bersama-sama atau berjama’ah, menyemangati dengan menasehati anak tentang pentingnya shalat 5 waktu. Dalam tahap ini diwajibkan kepada orang tua selain menasehati tentang pentingnya shalat peran orang tua juga dituntut untuk bisa memberi contoh dengan cara mengajak anaknya ikut dalam shalat 5 waktu berjamaah ketika dia mengetahui kanan dan kirinya.
وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: إذا عرف الغلام يمينه من شماله فمروه بالصلاة
Artinya: Diriwayatkan dari Nabi SAW sesungguhnya beliau bersabda: Apabila seorang anak telah bisa membedakan tangan kanannya dari kirinya maka perintakan mereka untuk sholat.[3]
2.      Tahapan mengajarkan anak tata cara shalat
Disini orang tua mulai mengajarkan rukun-rukun, wajib-wajib, dan yang membatalkan shalat kepada anaknya, dan Nabi Saw. telah menetapkan bahwa seorang anak diajarkan shalat pada umur 7 tahun.
Tahap ini dilakukan sebelum usia anak menginjak 7 tahun dan tahap ini dibagi dengan empat bagian yaitu:
Pertama : dengan mengajarkan anak  tata cara bersuci yang sederhana seperti, menghindari dari najis seperti najisnya air seni dan lain sebagainya dari macam-macam najis. Dan juga mengajarkan tata cara beristinja' atau membersihkan kotoran setelah buang hajat diikuti dengan adab-adab dalam membuang hajat. Dan setelah itu dengan mengajarkan mereka pentingnya menjaga kebersihan tubuh dan pakain dikuti dengan penjelasan bahwa kebersihan itu semua ada hubungan dengan  syarat dari diterimanya sholat.
Kedua : Mengajarkan kepada anak al-Fatihah dan sebagian surat-surat pendek dalam bacaan sholat. Seperti, surat an-Nas, surat al-Ikhlas Dan lain-lain.
Ketiga : mengajarkan tata cara berwudhu diikuti dengan praktek secara langsung seperti apa yang dilakukan para sahabat terhadap anak-anaknya.
Keempat : sebelum usianya menginjak tujuh tahun kita mulai dengan  melatihnya dalam mengerjakan sholat tetapi bukan secara keseluruhan (lima waktu) namun dengan mengerjakan salah satu darinya misalnya mengerjakan sholat subuh.
Dan Rasululullah Saw. mengajarkan secara langsung terhadap anak-anak apa-apa yang dibutuhkan dalam shalat mulai dari membenarkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam shalat dan mengajarkan cara adzan.
3.      Tahapan menyuruh anak untuk shalat dan memukulnya apabila meninggalkannya
Diantara usia 7 tahun sampai 10 tahun. Di dalam hadis:
"مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع واضربوهم عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع"
Di hadits tersebut para anak bisa belajar dan tau bahwa kewajiban sholat lima waktu telah menjadi tugas baginya, oleh karena itu diwajibkan kepada kedua orang tua untuk selalu menasehati putra-putri mereka pada dalam masa ini dikarenakan rasulullah telah mengkhususkan pada masa ini sebagai masa atau periode nasihat dalam perintah mengerjakan sholat yang sesungguhnya. Dalam hal ini dianjurkan kepada orang tua untuk selalu mengulang-ulang dalam menasehati dan mengingati anak-anaknya untuk mengerjakan sholat  dengan lemah lembut, senyuman dan rasa cinta serta kasih sayang. Nah, jika kita menghitung seandainya kita menasehati putra-putri disetiap waktu sholat maka dalam waktu tiga tahun dari usia tujuh hingga sepuluh tahun maka kita telah mengingati sang anak sebanyak 5475 kali. Dan didalam masa ini sang anak juga diharuskan mempelajari tata cara bersuci dan sholat yang baik dan benar diikuti oleh bacaan sholat dan doa-doa setelahnya.
Kemudian dalam tahap ini dilaksanakan pada usia sepuluh tahun yaitu, Perintah mengerjakan sholat dan memukulnya bagi yang meninggalkannya. Dalam tahap ini dilakukan setelah pelaksanaan dengan berulang-ulang selama tiga tahun dan apabila sang anak masih suka meninggalkan sholat maka di haruskan bagi kedua orang tua untuk memukulnya agar kelak sang anak tidak meremehkan perintah sholat nantinya. Dan didalam masa ini pula kedua orang tua mengajarkan sang anak sholat-sholat sunnah seperti witr, dhuha dll. Juga dianjurkan kepada orang tua dalam penekanan perintah melaksanakan sholat subuh dengan tepat waktu hingga tertanam di benak anak kebiasaan yang baik di masa yang akan datang.
Adapun ada batas-batas pemukulan orang tua terhadap anaknya, seperti apa yang disabdakan oleh rasul untuk menjauhi daerah sekitar pipi atau menamparnya.
4.      Melatih anak untuk hadir shalat jum’at
عن جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة يوم الجمعة إلا مريض أو مسافر أو امرأة أو صبي أو مملوك فمن استغنى بلهو أو تجارة استغنى الله عنه والله غني حميد[4]

            Kemudian Imam kasani berpendapat dalam kitab Bada’I dari hadis diatas bahwasanya shalat jum’at bagi anak-anak adalah sunnah.
           
Anak-anak dilatih shalat jum’at memberikan mamfaat baginya yang banyak antara lain:
1.      Ketika beranjak baligh maka dia akan terbiasa melakukannya.
2.      Berpengaruh kepadanya ketika ia mendengarkan khutbah, membiasakannya mendengarkan nasehat dan sejarah Nabi Saw dan melatihnya mendengar ilmu.
3.      Terbiasa menyatu dalam kelompok-kelompok orang Islam.
4.      Bahsanya waktu-waktu mustajab do’a adalah hari jum’at, yaitu pada waktu khutbah, maka do’a orang yang hadir akan diterima pada saat itu seperti yang disabdakan Nabi Saw.
5.      Memperkaya Imannya, dan mengisi ruhaninya, dalam melaksakan shalat lima waktu, dan taat kepada Allah Swt. Antara satu jum’at dengan jum’at lainnya.
6.      Dia mengenal ulama-ulama dan pengaruh ulama tersebut.
7.      Dengan shalat jum’at maka akan membangun pribadinya dengan sempurna seperti: aqidah, ibadah, sosialisasi, toleransi, dan bertambah ilmunya.


5.      Membiasakan anak untuk shalat malam atau shalat tahajjud
Anak-anak tidak hanya disuruh untuk melakukan dan menjaga shalat lima waktu, tetapi  juga dalam shalat-shalat sunnah, seperti shalat tahajjud.
عن ابن عباس قال: " بت في بيت خالتي ميمونة بنت الحارث زوج النبي صلى الله عليه وسلم وكان النبي صلى الله عليه وسلم عندها في ليلتها فصلى النبي صلى الله عليه وسلم العشاء ثم جاء إلى منزله فصلى أربع ركعات ثم نام ثم قام ثم قال نام الغليم أو كلمة تشبهها ثم قام فقمت عن يساره فجعلني عن يمينه فصلى خمس ركعات ثم صلى ركعتين ثم نام حتى سمعت غطيطه أو خطيطه ثم خرج إلى الصلاة " متفق عليه
            Hadis secara umum menjelaskan bahwasanya Ibnu Abbas yang masih kanak-kanak ikut shalat sunnah malam bersama Rasulullah. Bahwasanya Rasulullah sangat menganggap penting permasalan ini yaitu mengajak anak shalat malam berjama’ah dan mendirikannya sebelah kanannya dan seperti inilah sifat Rasulullah shalat bersama orang dewasa dan anak-anak.

6.      Membiasakan anak dalam shalat istikharah

يا أنس ، إذا هممت بأمر ، فاستخر ربك فيه سبع مرات ، ثم انظر إلى الذي يسبق إلى قلبك ، فإن الخير فيه[5]

Dari di atas bahwasanya Rasulullah Saw. menyuruh anas untuk melakukan shalat sunat istikharah ketika anas dalam keadaan bimbang dan ragu.



7.      Mengajak anak dalam pelaksanaan shalat ‘ied

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ وَجَعْفَرٍوالحسن والحسين وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ

Artinya:“Nabi r keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali, Ja’far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir”.
            Hadis di atas sekilas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. mengajak Ali, Hasan dan Husain dalam pelaksanaan shalat ied atau shalat hari raya, dan mereka disaat itu masih dalam kategori anak-anak, ini menunjukkan bahwasanya seharusnya kita sebagai umatnya juga mengikuti uswah Nabi Saw. dan juga mengajak anak-anak kita dalam melaksanakan shalat hariraya.

Asas Ibadah yang Kedua: anak-anak dan Mesjid
1.      Mengajak anak-anak ke mesjid
Mesjid merupakan tempat dibinanya generasi demi generasi dan menanamkan kecintaan tiap generasi kepada Allah Swt, dan taat kepada segala perintah dan laranganNya dan mengikuti Rasul-rasulnya.
Dan anak-anak itu diajak ke mesjid ketika mereka paham terhadap kebersihan dan dalam keaadaan bersih, sehingga tidak melakukan buang airkecil atau buang airbesar di dalam mesjid, akan tetapi mereka paham dengan melakukan hal itu di kamar kecil atau WC dengan sendirinya, dan mereka telah mempelajari adab-adab dalam mesjid, yaitu masuk dengan tenang, meletakkan sandal pada tempatnya, dan tidak berlari-larian di dalam mesjid. Dan tidak masuk dalam barisan orangtua dan tidak juga membuat keributan.

Asas ibadah yang ketiga: Puasa
Ibadah puasa rohani dan jasmani, anak-anak belajar ikhlas yang sebenarnya semata-mata karena Allah Swt. Bahwasanya Allah selalu bersama mereka, Mengawasi mereka, dan mengajarkan anak jauh dari makanan walaupun dalam keadaan lapar, dan menjauhi minuman walaupun dalam keadaan haus.
Seperti juga dalam menahan keinginan mereka, dan anak-anak juga terbiasa dengan sabar, dan diantara cara sahabat Nabi dalam mendidik anak-anak meraka supaya menganggap penting puasa adalah dengan cara mengajak mereka bermain disaat puasa supaya terasa mudah bagi mereka dan mereka tidak merasakan panjangnya hari dan lelahnya berpuasa.

Asas Ibadah yang keempat: Haji
Mengetahui permasalahan haji adalah sama pentingnya dengan pelaksanaan shalat dan puasa, karena haji adalah termasuk dalam ibadah, maka anak-anak harus dibiasakan juga mengetahui permasalah haji. Ibadah haji seperti yang telah kita ketahui menyatukan kesulitan-kesulitan dari ibadah-ibadah lainnya.
Sahabat-sahabat Nabi yang masih kanak-kanak juga pernah melakukan haji seperti yang terdapat dalam hadis berikut ini:
عن ابن عباس - رضي الله عنهما- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لقي ركباً بالروحاء فقال( من القوم) " قالوا : المسلمون ، فقالوا : من أنت؟ قال :" رسول الله" فرفعت إليه امرأةٌ صبياً فقالت : ألهذا حجٌ؟ قال:" نعم ولك أجرٌ"
Dalam hadis ini menjelaskan bahwa ada seorang wanita yang belum baligh dan ingin melakukan ibadah haji, dan kemudian seseorang bertanya kepada Rasulullah maka bagi wanita kecil ini atasnya melakukan ibadah haji dan Rasulullah pun menjawab :Iya dan baginya pahala juga.
Asas Ibadah yang kelima: zakat
Hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya yang bernama ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash :

أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللهnوَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِى يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟ قَالَتْ: لاَ. قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ n وَقَالَتْ: هُمَا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ

Bahwasanya seorang wanita mendatangi Rasulullah  bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas yang tebal di tangannya, maka Rasulullah  berkata kepadanya:“Apakah engkau telah membayarkan zakatnya?” Wanita itu menjawab: “Belum.” Rasulullah berkata: “Apakah menggembirakan dirimu bahwa dengan sebab dua gelang emas itu Allah akan memakaikan atasmu dua gelang api dari neraka pada hari kiamat nanti?” Maka wanita itu pun melepaskan kedua gelang itu dan memberikannya kepada Nabi  seraya berkata: “Keduanya untuk Allah  dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Hadits ini hasan, dikuatkan sanadnya oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram, dishahihkan oleh Ibnul Qaththan t sebagaimana dalam Nashbur Rayah dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil.
Tentang zakat fitri  Rasulullah Saw. menekankan bahwa ibadah zakat ini adalah wajib dan bukan sunat.

Pembinaan Sosial-Kemasyarakatan Anak
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu- bahwa dia pernah melewati anak-anak kecil, lalu ia memberi salam kepada mereka dan berkata, “Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- selalu melakukan hal ini.”
Asas-asas pembinaan sosial:
Pertama: anak diajak dalam pengajian-pengajian orang dewasa
Kedua: anak dibiasakan melakukan sunnah memberikan salam
Ketiga: Merujuk ke rumah sakit bila anak-anak sakit
Keempat: anak bergaul dengan anak-anak juga.
Kelima: anak dibiasakan dalam transaksi jual-beli
Keenam: anak  diinapkan pada kerabat-kerabat yang shaleh

Pertama: anak-anak diajak dalam pengajian-pengajian orang dewasa
Pada masa Nabi anak-anak menghadiri pengajian Nabi Saw. , dan orang tua mereka membawa mereka ke pengajian  itu yang baik dan suci, umar juga mengajak anaknya ke pengajian Nabi Saw.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw. Bersabda: Beritahukanlah kepadaku suatu pohon yang perumpamaannya mirip seorang muslim, berbuah setiap saat dengan izin pemiliknya dan daunnya pun tidak pernah berguguran. Hatiku mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun aku tidak berani mengatakannya apalagi disana terdapat Abu Bakr dan Umar, ketika keduanya tidak angkat bicara, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Pohon itu adalah pohon kurma. Ketika aku keluar bersama ayahku, aku berkata; Wahai ayahku, tadi dalam hatiku mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Ayahku berkata; Kenapa kamu tidak menjawabnya! Sekiranya kamu menjawabnya, maka hal itu lebih aku sukai daripada ini dan ini. Abdullah berkata; Sebenarnya tidak ada yang mencegahku untuk menjawabnya melainkan aku melihatmu dan Abu Bakr tidak juga angkat bicara, maka aku tidak suka (mendahulinya).
Dan Rasulullah juga berbaur dengan anak-anak,  Anas bin Malik berkata: Adalah Rasulullah saw bergaul dengan kami lalu berkata kepada adikku: Ya Abu Umair apa yang dilakukan oleh nughoir – burung yang suka bermain dengannya- ia (Anas) berkata: lalu dicucilah tikar kami dan beliau salat di atasnya dan mengatur shaf kami  di belakangnya. (HR Ahmad).
Dan dalam mengajak anak dalam pengajian orang karena kebutuhan mereka terhadap pendidikan, dan pendidik sanggup memberi petunjuk secara sempurna dan memberikan keberanian dalam menjawab dan ketika melontarkan pertanyaan dan berbicara setelah izin dengan adab dan sopan maka tumbuhlah akalnya, dan memurnikan dirinya, dan melancarkan dalam berbicaranya, dan mengetahui permasalahan dewasa sedikit demi sedikit, dan siap dalam bersosialisasi dengan masyarakat, dan tumbuh sedikit-sedikit, dengan pelatihan dari orangtuanya baginya, anak laki-laki dengan ayahnya, dan anak perempuan dengan ibunya.

Kedua: anak dibiasakan melakukan sunnah memberikan salam
Salam merupakan ucapan selamat dikalangan umat Islam, anak-anak kadangkala bertemu dengan orang-orang yang berbeda dengan tingkatan mereka, maka agar mereka mengenal dengan orang yang ditemuinya harus ada kata pembuka dalam memulai perkenalan dengan orang yang ditemuinya itu.
Dalam menghidupkan pemberian salam Rasulullah dan sahabatnya memberi cara yang sangat mudah yaitu dengan cara orang dewasa selalu terbiasa mengucapkan salam kepada setiap anak yang ditemuinya, sehingga anak-anak mengetahui bahwasanya salam itu adalah sunnah dan mereka juga terbiasa dalam mengucapkan salam.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu- bahwa dia pernah melewati anak-anak kecil, lalu ia memberi salam kepada mereka dan berkata, “Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- selalu melakukan hal ini.”

Ketiga: Merujuk ke rumah sakit bila anak-anak sakit
Selanjutnya yang membatu perkembangan mental anak-anak dalam masyarakat sosial adalah merujuknya kerumah sakit apabila mereka sakit, ketika mereka melihat dan pada saat itu mereka dalam keaadaan fitrah (suci),  tiap orang dewasa mendatanginya, akan membiasakan adat yang baik dan meringankan beban orang yang sakit, dan menambah Iman sang anak kepada Allah Swt.

Keempat: anak bergaul dengan anak-anak juga.
Dan diantara adab-adab dalam sosial- kemasayarakatan diantara manusia adalah: bersahabat,  dan diantara kebiaasaan manusia adalah berbaur dengan orang lain, dan mengenal satu sama lain, terjadi keakraban sesama, hidup bersama-sama layaknya hidup dalam satu ukhuwah dan mahabbah. Dan orang-tua akan lebih baiknya memilih teman untuk anaknya adalah yang shaleh, yang membatunya dalam belajar dan perkembangannya.
Kelima: anak dibiasakan dalam transaksi jual-beli.
            Bahwasanya Rasulullah Saw. sangat menganggap penting dalam pembinaan anak-anak dalam sosial dan ekonomi, dan berbagai aspek dalam kehidupan agar anak mengetahui perkembangan kehidupan yang baru, masyarakat baru dimana ia tumbuh dan dengan melakukan transaksi jual-beli ia memperoleh pengalaman yang baru dalam masyarakat. Dan dengan cara ini mereka akan berkembang dalam hidup mereka, dan setiap waktu yang dilaluinya bermamfaat seperti halnya juga menimbulkan rasa percaya diri sang anak, belajar bersungguh-sungguh dalam hidup sedikit demi sedikit, jauh dari hal yang bersifat gurauan semata terbiasa dalam memberi dan menerima.

Keenam: anak  diinapkan pada kerabat-kerabat yang shaleh
            Keluarnya seorang anak dari rumahnya ke salah satu rumah kerabat-kerabatnya yang shaleh dan tidur di rumah mereka adalah suatu latihan baginya, ketika melihat keluarganya yang lain dan melatih dirinya untuk bermu’amalah dengan kerabat-kerabatnya dan dia memperoleh ilmu, pemahaman, ibadah dan sebagainya. Seperti halnya juga melatih bersilaturrahmi dan menambah ikatan dan kasih saying sesama kerabatnya, akan meninggalkan kesan yang baik ketika anak beranjak dewasa ketika ia mengingat-ingat masa dia menginap pada rumah saudaranya itu dan mengunnjungi saudara seumurnya atau sepupunya akan memperbaiki tata cara bergaulnya.
           













BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Pembinaan ibadah menjadi penyempurna terhadap pembinaan aqidah, ibadah juga memperkaya aqidah anak-anak ketika mendengar adzan dan melaksanakan perintah Allah. dan Syaikh Ramadhan Buthi berkata: agar aqidah kita kuat, maka kita harus sering beribadah dengan bermacam-macam jenis ibadah seperti shalat, puasa dan sebagainya, dengan demikian memperkuat aqidah di hati kita. pembinaan ibadah terhadap anak antara lain:
1.      Tahapan mengajak anak untuk Shalat
2.      Tahapan mengajarkan anak tata cara shalat
3.      Tahapan menyuruh anak untuk shalat dan memukulnya apabila meninggalkannya
4.      Melatih anak untuk hadir shalat jum’at
5.      Membiasakan anak untuk shalat malam atau shalat tahajjud
6.      Membiasakan anak dalam shalat istikharah
7.      Mengajak anak dalam pelaksanaan shalat ‘ied
Adalah hal yang penting juga mendidik anak agar bias menyatu dan membaur dalam kehidupan sosial masyarakat, terdidik berani dan terbiasa membantu satu sama lain, berikut tata cara pembinaan sosial anak:
Pertama: anak diajak dalam pengajian-pengajian orang dewasa
Kedua: anak dibiasakan melakukan sunnah memberikan salam
Ketiga: Merujuk ke rumah sakit bila anak-anak sakit
Keempat: anak bergaul dengan anak-anak juga.
Kelima: anak dibiasakan dalam transaksi jual-beli
Keenam: anak  diinapkan pada kerabat-kerabat yang shaleh



           


DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Ahwani, al-Tarbiyatu fi al-Islami,
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari ‘ala Syarhi al-Shahih al-Bukhari,
Al-Kasani, Bada’i al-Shana’i
Ibn Sunni, Amalan Siang dan Malam, no. 603
Sa’id Ramadhan Buthi, Al-Tajribatu al-Tarbiyatu al-Islamiyatu,



[1] Sa’id Ramadhan Buthi, Al-Tajribatu al-Tarbiyatu al-Islamiyatu, hal 40.
[2]Ibn Farhun Al-Maliki, Fathul ‘Ali Al-Malik fi Al-fatawa ‘ala mazhab Imam Malik, 2008
[3] Al-Bani, Dha’if, lihat Kitab Dha’if al-Jami’ No 693
[4] Hadis diriwayatkan dari Abu Daud dari Thariq Ibn Syihab
[5] Ibn Sunni, ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah  no. 603