PENDAHULUAN
Pembinaan
ibadah menjadi penyempurna terhadap pembinaan aqidah, ibadah juga memperkaya
aqidah anak-anak ketika mendengar adzan dan melaksanakan perintah Allah. dan
Syaikh Ramadhan Buthi berkata: agar aqidah kita kuat, maka kita harus sering
beribadah dengan bermacam-macam jenis ibadah seperti shalat, puasa dan sebagainya,
dengan demikian memperkuat aqidah di hati kita.
Masa
kanak-kanak bukanlah masa taklif atau yang dibebani dengan kewajiban syari’at,
tetapi ia adalah masa persiapan, pelatihan dan pembiasaan sehingga sampai pada
masa baligh. Untuk memudahkan mereka mengerjakan sesuatu yang wajib, dan untuk
penyempurnaan persiapan dalam hidup, dengan penuh khidmat dan beribadah
semata-mata karena Allah. menumbuhkan rasa khusyu’ dan menjadikannya selalu
istiqamah dalam beragama, karena pada masa itu peran syahwat masih lemah, dan
menjadikan jiwanya selalu dekat dengan Allah. dengan sering membaca al-Qur’an
dan mendengarkannya, baik itu dalam shalat atau tidak. Mereka mendengarkan
adzan pertanda waktu berbuka ketika berpuasa, terdapat rahasia-rahasia
keutamaan ibadah yang tidak terhitung jumlahnya memberi bekas pada anak-anak
dalam pertumbuhan kekuatan dan mentalnya oleh karena itu Nabi sangat
mengutamakan pendidikan pada masa kanak-kanak ini.
Bahwasanya
Rasulullah Saw. juga langsung turut serta dalam proses perkembangan anak-anak
dalam beribadah kepada Allah Swt.
BAB II
PEMBAHASAN
Pembinaan
Ibadah Terhadap Anak
Asas Ibadah yang pertama- Shalat
1.
Tahapan mengajak anak untuk Shalat
Orang tua menyuruh anaknya untuk
shalat dan mengajak shalat bersama-sama atau berjama’ah, menyemangati dengan menasehati anak tentang pentingnya shalat 5
waktu. Dalam tahap ini diwajibkan kepada orang tua selain menasehati tentang
pentingnya shalat peran orang tua juga dituntut untuk bisa memberi contoh
dengan cara mengajak anaknya ikut dalam shalat 5 waktu berjamaah ketika dia
mengetahui kanan dan kirinya.
وقد روي عن النبي
صلى الله عليه وسلم أنه قال: إذا عرف الغلام يمينه من شماله فمروه بالصلاة
Artinya: Diriwayatkan dari Nabi SAW sesungguhnya beliau bersabda: Apabila
seorang anak telah bisa membedakan tangan kanannya dari kirinya maka perintakan
mereka untuk sholat.
2.
Tahapan mengajarkan anak tata cara shalat
Disini orang tua mulai mengajarkan
rukun-rukun, wajib-wajib, dan yang membatalkan shalat kepada anaknya, dan Nabi
Saw. telah menetapkan bahwa seorang anak diajarkan shalat pada umur 7 tahun.
Tahap ini dilakukan sebelum usia
anak menginjak 7 tahun dan tahap ini dibagi dengan empat bagian yaitu:
Pertama : dengan mengajarkan
anak tata cara bersuci yang sederhana
seperti, menghindari dari najis seperti najisnya air seni dan lain sebagainya
dari macam-macam najis. Dan juga mengajarkan tata cara beristinja' atau membersihkan
kotoran setelah buang hajat diikuti dengan adab-adab dalam membuang hajat. Dan
setelah itu dengan mengajarkan mereka pentingnya menjaga kebersihan tubuh dan
pakain dikuti dengan penjelasan bahwa kebersihan itu semua ada hubungan
dengan syarat dari diterimanya sholat.
Kedua : Mengajarkan kepada anak
al-Fatihah dan sebagian surat-surat pendek dalam bacaan sholat. Seperti, surat
an-Nas, surat al-Ikhlas Dan lain-lain.
Ketiga : mengajarkan tata cara
berwudhu diikuti dengan praktek secara langsung seperti apa yang dilakukan para
sahabat terhadap anak-anaknya.
Keempat : sebelum usianya menginjak
tujuh tahun kita mulai dengan melatihnya
dalam mengerjakan sholat tetapi bukan secara keseluruhan (lima waktu) namun
dengan mengerjakan salah satu darinya misalnya mengerjakan sholat subuh.
Dan Rasululullah Saw. mengajarkan
secara langsung terhadap anak-anak apa-apa yang dibutuhkan dalam shalat mulai
dari membenarkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam shalat dan
mengajarkan cara adzan.
3.
Tahapan menyuruh anak untuk shalat dan memukulnya apabila meninggalkannya
Diantara
usia 7 tahun sampai 10 tahun. Di dalam hadis:
"مروا أولادكم بالصلاة
وهم أبناء سبع واضربوهم عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع"
Di hadits tersebut para anak bisa
belajar dan tau bahwa kewajiban sholat lima waktu telah menjadi tugas baginya,
oleh karena itu diwajibkan kepada kedua orang tua untuk selalu menasehati
putra-putri mereka pada dalam masa ini dikarenakan rasulullah telah
mengkhususkan pada masa ini sebagai masa atau periode nasihat dalam perintah
mengerjakan sholat yang sesungguhnya. Dalam hal ini dianjurkan kepada orang tua
untuk selalu mengulang-ulang dalam menasehati dan mengingati anak-anaknya untuk
mengerjakan sholat dengan lemah lembut,
senyuman dan rasa cinta serta kasih sayang. Nah, jika kita menghitung seandainya
kita menasehati putra-putri disetiap waktu sholat maka dalam waktu tiga tahun
dari usia tujuh hingga sepuluh tahun maka kita telah mengingati sang anak
sebanyak 5475 kali. Dan didalam masa ini sang anak juga diharuskan mempelajari
tata cara bersuci dan sholat yang baik dan benar diikuti oleh bacaan sholat dan
doa-doa setelahnya.
Kemudian dalam tahap ini
dilaksanakan pada usia sepuluh tahun yaitu, Perintah mengerjakan sholat dan
memukulnya bagi yang meninggalkannya. Dalam tahap ini dilakukan setelah pelaksanaan
dengan berulang-ulang selama tiga tahun dan apabila sang anak masih suka
meninggalkan sholat maka di haruskan bagi kedua orang tua untuk memukulnya agar
kelak sang anak tidak meremehkan perintah sholat nantinya. Dan didalam masa ini
pula kedua orang tua mengajarkan sang anak sholat-sholat sunnah seperti witr,
dhuha dll. Juga dianjurkan kepada orang tua dalam penekanan perintah
melaksanakan sholat subuh dengan tepat waktu hingga tertanam di benak anak
kebiasaan yang baik di masa yang akan datang.
Adapun ada batas-batas pemukulan
orang tua terhadap anaknya, seperti apa yang disabdakan oleh rasul untuk
menjauhi daerah sekitar pipi atau menamparnya.
4.
Melatih anak untuk hadir shalat jum’at
عن جابر أن رسول
الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة يوم الجمعة
إلا مريض أو مسافر أو امرأة أو صبي أو مملوك فمن استغنى بلهو أو تجارة استغنى الله
عنه والله غني حميد
Kemudian
Imam kasani berpendapat dalam kitab Bada’I dari hadis diatas bahwasanya shalat
jum’at bagi anak-anak adalah sunnah.
Anak-anak dilatih shalat jum’at
memberikan mamfaat baginya yang banyak antara lain:
1.
Ketika
beranjak baligh maka dia akan terbiasa melakukannya.
2.
Berpengaruh
kepadanya ketika ia mendengarkan khutbah, membiasakannya mendengarkan nasehat
dan sejarah Nabi Saw dan melatihnya mendengar ilmu.
3.
Terbiasa
menyatu dalam kelompok-kelompok orang Islam.
4.
Bahsanya
waktu-waktu mustajab do’a adalah hari jum’at, yaitu pada waktu khutbah, maka
do’a orang yang hadir akan diterima pada saat itu seperti yang disabdakan Nabi
Saw.
5.
Memperkaya
Imannya, dan mengisi ruhaninya, dalam melaksakan shalat lima waktu, dan taat
kepada Allah Swt. Antara satu jum’at dengan jum’at lainnya.
6.
Dia
mengenal ulama-ulama dan pengaruh ulama tersebut.
7.
Dengan
shalat jum’at maka akan membangun pribadinya dengan sempurna seperti: aqidah,
ibadah, sosialisasi, toleransi, dan bertambah ilmunya.
5.
Membiasakan anak untuk shalat malam atau shalat tahajjud
Anak-anak
tidak hanya disuruh untuk melakukan dan menjaga shalat lima waktu, tetapi juga dalam shalat-shalat sunnah, seperti
shalat tahajjud.
عن ابن عباس قال:
" بت في بيت خالتي ميمونة بنت الحارث زوج النبي صلى الله عليه وسلم وكان النبي
صلى الله عليه وسلم عندها في ليلتها فصلى النبي صلى الله عليه وسلم العشاء ثم جاء إلى
منزله فصلى أربع ركعات ثم نام ثم قام ثم قال نام الغليم أو كلمة تشبهها ثم قام فقمت
عن يساره فجعلني عن يمينه فصلى خمس ركعات ثم صلى ركعتين ثم نام حتى سمعت غطيطه أو خطيطه
ثم خرج إلى الصلاة " متفق عليه
Hadis
secara umum menjelaskan bahwasanya Ibnu Abbas yang masih kanak-kanak ikut
shalat sunnah malam bersama Rasulullah. Bahwasanya Rasulullah sangat menganggap
penting permasalan ini yaitu mengajak anak shalat malam berjama’ah dan
mendirikannya sebelah kanannya dan seperti inilah sifat Rasulullah shalat
bersama orang dewasa dan anak-anak.
6.
Membiasakan anak dalam shalat istikharah
يا أنس ، إذا هممت
بأمر ، فاستخر ربك فيه سبع مرات ، ثم انظر إلى الذي يسبق إلى قلبك ، فإن الخير فيه
Dari
di atas bahwasanya Rasulullah Saw. menyuruh anas untuk melakukan shalat sunat
istikharah ketika anas dalam keadaan bimbang dan ragu.
7.
Mengajak anak dalam pelaksanaan shalat ‘ied
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِيْ
الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِاللهِ وَالْعَبَّاسِ وَعَلِيٍ
وَجَعْفَرٍوالحسن والحسين وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَزَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ وَأَيْمَنَ
بْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ
Artinya:“Nabi
r keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas, Ali,
Ja’far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin
Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir”.
Hadis di atas sekilas menunjukkan bahwa
Rasulullah Saw. mengajak Ali, Hasan dan Husain dalam pelaksanaan shalat ied
atau shalat hari raya, dan mereka disaat itu masih dalam kategori anak-anak,
ini menunjukkan bahwasanya seharusnya kita sebagai umatnya juga mengikuti uswah
Nabi Saw. dan juga mengajak anak-anak kita dalam melaksanakan shalat hariraya.
Asas
Ibadah yang Kedua: anak-anak dan Mesjid
1.
Mengajak anak-anak ke mesjid
Mesjid
merupakan tempat dibinanya generasi demi generasi dan menanamkan kecintaan tiap
generasi kepada Allah Swt, dan taat kepada segala perintah dan laranganNya dan
mengikuti Rasul-rasulnya.
Dan anak-anak itu diajak ke mesjid ketika mereka paham terhadap
kebersihan dan dalam keaadaan bersih, sehingga tidak melakukan buang airkecil
atau buang airbesar di dalam mesjid, akan tetapi mereka paham dengan melakukan
hal itu di kamar kecil atau WC dengan sendirinya, dan mereka telah mempelajari
adab-adab dalam mesjid, yaitu masuk dengan tenang, meletakkan sandal pada
tempatnya, dan tidak berlari-larian di dalam mesjid. Dan tidak masuk dalam
barisan orangtua dan tidak juga membuat keributan.
Asas ibadah yang ketiga: Puasa
Ibadah puasa rohani dan jasmani, anak-anak belajar ikhlas yang
sebenarnya semata-mata karena Allah Swt. Bahwasanya Allah selalu bersama
mereka, Mengawasi mereka, dan mengajarkan anak jauh dari makanan walaupun dalam
keadaan lapar, dan menjauhi minuman walaupun dalam keadaan haus.
Seperti juga dalam menahan keinginan mereka, dan anak-anak juga
terbiasa dengan sabar, dan diantara cara sahabat Nabi dalam mendidik anak-anak
meraka supaya menganggap penting puasa adalah dengan cara mengajak mereka
bermain disaat puasa supaya terasa mudah bagi mereka dan mereka tidak merasakan
panjangnya hari dan lelahnya berpuasa.
Asas
Ibadah yang keempat: Haji
Mengetahui permasalahan haji adalah sama pentingnya dengan pelaksanaan
shalat dan puasa, karena haji adalah termasuk dalam ibadah, maka anak-anak
harus dibiasakan juga mengetahui permasalah haji. Ibadah haji seperti yang
telah kita ketahui menyatukan kesulitan-kesulitan dari ibadah-ibadah lainnya.
Sahabat-sahabat Nabi yang masih kanak-kanak juga pernah melakukan
haji seperti yang terdapat dalam hadis berikut ini:
عن ابن عباس - رضي الله عنهما- أن رسول الله صلى
الله عليه وسلم لقي ركباً بالروحاء فقال( من القوم) " قالوا : المسلمون ، فقالوا
: من أنت؟ قال :" رسول الله" فرفعت إليه امرأةٌ صبياً فقالت : ألهذا حجٌ؟
قال:" نعم ولك أجرٌ"
Dalam hadis ini menjelaskan bahwa ada seorang wanita yang belum
baligh dan ingin melakukan ibadah haji, dan kemudian seseorang bertanya kepada
Rasulullah maka bagi wanita kecil ini atasnya melakukan ibadah haji dan
Rasulullah pun menjawab :Iya dan baginya pahala juga.
Asas Ibadah yang kelima: zakat
Hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya yang bernama ‘Abdullah
bin ‘Amr bin Al-’Ash :
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللهnوَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِى يَدِ ابْنَتِهَا
مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟
قَالَتْ: لاَ. قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟ فَخَلَعَتْهُمَا فَأَلْقَتْهُمَا إِلَى النَّبِيِّ n وَقَالَتْ: هُمَا
لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلِرَسُولِهِ
Bahwasanya seorang wanita mendatangi Rasulullah bersama putrinya yang mengenakan dua gelang
emas yang tebal di tangannya, maka Rasulullah berkata kepadanya:“Apakah engkau telah
membayarkan zakatnya?” Wanita itu menjawab: “Belum.” Rasulullah berkata:
“Apakah menggembirakan dirimu bahwa dengan sebab dua gelang emas itu Allah akan
memakaikan atasmu dua gelang api dari neraka pada hari kiamat nanti?” Maka
wanita itu pun melepaskan kedua gelang itu dan memberikannya kepada Nabi seraya berkata: “Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi,
dan An-Nasa’i. Hadits ini hasan, dikuatkan sanadnya oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam
Bulughul Maram, dishahihkan oleh Ibnul Qaththan t sebagaimana dalam Nashbur
Rayah dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil.
Tentang zakat fitri
Rasulullah Saw. menekankan bahwa ibadah zakat ini adalah wajib dan bukan
sunat.
Pembinaan
Sosial-Kemasyarakatan Anak
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Dari Anas bin Malik
-radhiallahu ‘anhu- bahwa dia pernah melewati anak-anak kecil, lalu ia memberi
salam kepada mereka dan berkata, “Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- selalu
melakukan hal ini.”
Asas-asas pembinaan sosial:
Pertama: anak diajak dalam
pengajian-pengajian orang dewasa
Kedua: anak dibiasakan melakukan sunnah
memberikan salam
Ketiga: Merujuk ke rumah sakit bila
anak-anak sakit
Keempat: anak bergaul dengan anak-anak
juga.
Kelima: anak dibiasakan dalam transaksi
jual-beli
Keenam: anak diinapkan pada kerabat-kerabat yang shaleh
Pertama: anak-anak diajak dalam
pengajian-pengajian orang dewasa
Pada masa Nabi anak-anak menghadiri
pengajian Nabi Saw. , dan orang tua mereka membawa mereka ke pengajian itu yang baik dan suci, umar juga mengajak
anaknya ke pengajian Nabi Saw.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra,
Rasulullah Saw. Bersabda:
Beritahukanlah kepadaku suatu pohon yang perumpamaannya mirip seorang
muslim, berbuah setiap saat dengan izin pemiliknya dan daunnya pun tidak pernah
berguguran. Hatiku
mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun aku tidak berani
mengatakannya apalagi disana terdapat Abu Bakr dan Umar, ketika keduanya tidak
angkat bicara, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Pohon itu adalah pohon kurma. Ketika aku keluar bersama ayahku,
aku berkata; Wahai ayahku,
tadi dalam hatiku mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Ayahku berkata; Kenapa kamu tidak menjawabnya!
Sekiranya kamu menjawabnya, maka hal itu lebih aku sukai daripada ini dan ini. Abdullah berkata; Sebenarnya tidak ada yang
mencegahku untuk menjawabnya melainkan aku melihatmu dan Abu Bakr tidak juga
angkat bicara, maka aku tidak suka (mendahulinya).
Dan Rasulullah juga
berbaur dengan anak-anak, Anas bin Malik
berkata: Adalah Rasulullah saw bergaul dengan kami lalu berkata kepada
adikku: Ya Abu Umair apa yang dilakukan oleh nughoir – burung yang suka bermain
dengannya- ia (Anas) berkata: lalu dicucilah tikar kami dan beliau salat di
atasnya dan mengatur shaf kami di
belakangnya. (HR Ahmad).
Dan dalam mengajak anak dalam pengajian orang karena
kebutuhan mereka terhadap pendidikan, dan pendidik sanggup memberi petunjuk
secara sempurna dan memberikan keberanian dalam menjawab dan ketika melontarkan
pertanyaan dan berbicara setelah izin dengan adab dan sopan maka tumbuhlah
akalnya, dan memurnikan dirinya, dan melancarkan dalam berbicaranya, dan
mengetahui permasalahan dewasa sedikit demi sedikit, dan siap dalam
bersosialisasi dengan masyarakat, dan tumbuh sedikit-sedikit, dengan pelatihan
dari orangtuanya baginya, anak laki-laki dengan ayahnya, dan anak perempuan
dengan ibunya.
Kedua: anak dibiasakan melakukan sunnah
memberikan salam
Salam merupakan ucapan selamat dikalangan
umat Islam, anak-anak kadangkala bertemu dengan orang-orang yang berbeda dengan
tingkatan mereka, maka agar mereka mengenal dengan orang yang ditemuinya harus
ada kata pembuka dalam memulai perkenalan dengan orang yang ditemuinya itu.
Dalam menghidupkan pemberian salam
Rasulullah dan sahabatnya memberi cara yang sangat mudah yaitu dengan cara
orang dewasa selalu terbiasa mengucapkan salam kepada setiap anak yang
ditemuinya, sehingga anak-anak mengetahui bahwasanya salam itu adalah sunnah
dan mereka juga terbiasa dalam mengucapkan salam.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim: “Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu- bahwa dia pernah
melewati anak-anak kecil, lalu ia memberi salam kepada mereka dan berkata,
“Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- selalu melakukan hal ini.”
Ketiga: Merujuk ke rumah sakit bila
anak-anak sakit
Selanjutnya yang membatu perkembangan
mental anak-anak dalam masyarakat sosial adalah merujuknya kerumah sakit
apabila mereka sakit, ketika mereka melihat dan pada saat itu mereka dalam
keaadaan fitrah (suci), tiap orang
dewasa mendatanginya, akan membiasakan adat yang baik dan meringankan beban
orang yang sakit, dan menambah Iman sang anak kepada Allah Swt.
Keempat: anak bergaul dengan anak-anak
juga.
Dan diantara adab-adab dalam sosial-
kemasayarakatan diantara manusia adalah: bersahabat, dan diantara kebiaasaan manusia adalah
berbaur dengan orang lain, dan mengenal satu sama lain, terjadi keakraban
sesama, hidup bersama-sama layaknya hidup dalam satu ukhuwah dan mahabbah. Dan
orang-tua akan lebih baiknya memilih teman untuk anaknya adalah yang shaleh,
yang membatunya dalam belajar dan perkembangannya.
Kelima: anak dibiasakan dalam transaksi
jual-beli.
Bahwasanya
Rasulullah Saw. sangat menganggap penting dalam pembinaan anak-anak dalam
sosial dan ekonomi, dan berbagai aspek dalam kehidupan agar anak mengetahui
perkembangan kehidupan yang baru, masyarakat baru dimana ia tumbuh dan dengan
melakukan transaksi jual-beli ia memperoleh pengalaman yang baru dalam
masyarakat. Dan dengan cara ini mereka akan berkembang dalam hidup mereka, dan
setiap waktu yang dilaluinya bermamfaat seperti halnya juga menimbulkan rasa
percaya diri sang anak, belajar bersungguh-sungguh dalam hidup sedikit demi
sedikit, jauh dari hal yang bersifat gurauan semata terbiasa dalam memberi dan
menerima.
Keenam: anak diinapkan pada kerabat-kerabat yang shaleh
Keluarnya
seorang anak dari rumahnya ke salah satu rumah kerabat-kerabatnya yang shaleh
dan tidur di rumah mereka adalah suatu latihan baginya, ketika melihat
keluarganya yang lain dan melatih dirinya untuk bermu’amalah dengan
kerabat-kerabatnya dan dia memperoleh ilmu, pemahaman, ibadah dan sebagainya.
Seperti halnya juga melatih bersilaturrahmi dan menambah ikatan dan kasih
saying sesama kerabatnya, akan meninggalkan kesan yang baik ketika anak
beranjak dewasa ketika ia mengingat-ingat masa dia menginap pada rumah
saudaranya itu dan mengunnjungi saudara seumurnya atau sepupunya akan
memperbaiki tata cara bergaulnya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pembinaan
ibadah menjadi penyempurna terhadap pembinaan aqidah, ibadah juga memperkaya
aqidah anak-anak ketika mendengar adzan dan melaksanakan perintah Allah. dan
Syaikh Ramadhan Buthi berkata: agar aqidah kita kuat, maka kita harus sering
beribadah dengan bermacam-macam jenis ibadah seperti shalat, puasa dan
sebagainya, dengan demikian memperkuat aqidah di hati kita. pembinaan ibadah
terhadap anak antara lain:
1.
Tahapan
mengajak anak untuk Shalat
2.
Tahapan
mengajarkan anak tata cara shalat
3.
Tahapan
menyuruh anak untuk shalat dan memukulnya apabila meninggalkannya
4.
Melatih
anak untuk hadir shalat jum’at
5.
Membiasakan
anak untuk shalat malam atau shalat tahajjud
6.
Membiasakan
anak dalam shalat istikharah
7.
Mengajak
anak dalam pelaksanaan shalat ‘ied
Adalah
hal yang penting juga mendidik anak agar bias menyatu dan membaur dalam
kehidupan sosial masyarakat, terdidik berani dan terbiasa membantu satu sama
lain, berikut tata cara pembinaan sosial anak:
Pertama: anak diajak dalam
pengajian-pengajian orang dewasa
Kedua: anak dibiasakan melakukan
sunnah memberikan salam
Ketiga: Merujuk ke rumah sakit bila
anak-anak sakit
Keempat: anak bergaul dengan
anak-anak juga.
Kelima: anak dibiasakan dalam
transaksi jual-beli
Keenam: anak diinapkan pada kerabat-kerabat yang shaleh
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Ahwani, al-Tarbiyatu fi
al-Islami,
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul
Bari ‘ala Syarhi al-Shahih al-Bukhari,
Al-Kasani, Bada’i al-Shana’i
Ibn Sunni, Amalan Siang dan
Malam, no. 603
Sa’id Ramadhan Buthi, Al-Tajribatu
al-Tarbiyatu al-Islamiyatu,