Thursday, August 16, 2018

CERITA HIKMAH: DUA SAKU YANG BERBEDA


Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua saku. Pada saku yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada saku yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian dan sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam poket yang berlubang.

Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam saku yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam poket yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh saku yang ada lubangnya, tetapi ia tidak mendapati apa pun.

Maka ia pun tertawa dan tetap bergembira kerana tidak ada sesuatu yang boleh merusak hati dan jiwanya.

***

Sobat ... Itulah yang seharusnya kita lakukan dalam kehidupan yang kita jalani ini. Menyimpan semua yang baik di "Poket yang tidak berlubang", sehingga tidak satupun yang baik akan hilang dari hidup kita.

Sebaliknya, simpan semua perkara buruk yang berlaku pada kehidupan kita di "Poket yang berlubang", maka kemudian hal yang buruk itu akan terjatuh dan tidak perlu kita ingat kembali.

Walaupun demikan, masih banyak diantara kita yang melakukan hal tersebut berbalik-balik, kita menyimpan semua perkara yang baik di "Poket yang berlubang", dan yang tidak baik di "Poket yang tidak berlubang" (memelihara fikiran-fikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka ketahuilah sobat, jiwa kita akan menjadi tertekan dan tidak ada semangat dalam menjalani hidup.

Maka dari itu, agar kita dapat menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: janganlah menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kehidupan kita, biarkan dia sirna jauh dari tatapan mata kita, sehingga tidak satupun dari kita yang tidak merasakan ketenangan spiritual. Mari kita sama-sama menyimpan yang baik-baik agar dapat bermanfaat bagi kita dan umat esok harinya.

Semoga artikel ini dapat memberi hikmah yang baik, untuk bermanfaat bagi kita semua.

Sejarah Hidup Nabi Muhammad Saw: Umar tidak Percaya Nabi Wafat


Wafatnya Rasulullah SAW sangat mengejutkan kaum Muslimin yang sedang berada di dalam masjid. Sebab, pagi harinya mereka melihat Nabi SAW menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.

Setelah mengetahui hal itu, Umar segera ke tempat disemayamkannya jenazah Rasulullah. Ia tidak percaya bahwa Rasulullah sudah wafat. Ketika dia datang, dibukanya tutup wajah beliau. Ternyata beliau sudah tidak bergerak lagi.

Umar menduga bahwa Nabi sedang pingsan, tentu akan siuman lagi. Mughirah meyakinkan Umar atas kenyataan yang pahit ini, namun Umar tetap berkeyakinan bahawa Rasulullah tidak wafat. Oleh kerana itu Umar keras kepala dan berkata kepada Mughirah, "Engkau dusta!"

Kemudian Umar keluar ke masjid sambil berteriak, "Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah SAW telah meninggal dunia. Tetapi demi Allah, sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama 40 hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong! "

Teriakan Umar yang kencang dan berulang-ulang ini didengar oleh kaum Muslimin di masjid. Mereka pun kebingungan. Mereka kemudian mengerumuni Umar, mempercayai pendapatnya, bahawa Rasulullah tidak meninggal.

Tiba-tiba Abu Bakar Ash-Shiddiq datang. Ketika dilihatnya kaum Muslimin dalam keadaan demikian, dan Umar sedang berpidato, ia tidak berhenti lama-lama di tempat itu melainkan terus ke rumah Aisyah tanpa menoleh lagi.

Ketika masuk ke rumah anak perempuannya, dilihatnya Nabi di salah satu bahagian dalam rumah itu sudah diselubungi burd hibara (kain buatan Yaman). Abu Bakar menyingkap selubung itu dari wajah Nabi dan menciumnya sambil berkata, "Alangkah indahnya di waktu engkau hidup, alangkah indahnya pula di waktu engkau mati. Demi ibu-bapakku, maut yang sudah ditentukan Allah kepadamu sekarang sudah sampai kau rasakan. Sesudah itu takkan ada lagi maut menimpa kamu. "

Sesudah itu, Abu Bakar keluar. Ternyata Umar masih bercakap dan meyakinkan orang-orang bahwa Muhammad SAW tidak meninggal. Orang banyak memberikan jalan kepada Abu Bakar. "Sabar, sabarlah Umar!" kata Abu Bakar, setelah ia berada di dekat Umar. "Dengar!"

Tetapi Umar tidak mau diam dan juga tidak mahu mendengar. Ia terus saja bicara. Abu Bakar menghampiri orang-orang itu seraya memberi isyarat, bahwa dia akan bercakap dengan mereka. Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah Abu Bakar berkata, "Saudara-saudara, sesiapa mau menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tak pernah mati."

Kemudian Abu Bakar membacakan firman Allah, "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. " (QS. Ali Imran: 144).

Setelah didengarnya Abu Bakar membacakan ayat itu, Umar jatuh tersungkur ke tanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah ia yakin bahawa Rasulullah memang sudah meninggal dunia. Adapun orang banyak-yang sebelumnya sudah terpengaruh oleh pendapat Umar-begitu mendengar bunyi ayat yang dibacakan Abu Bakar, langsung sadar. Seolah-olah mereka tidak pernah mengetahui bahawa ayat ini pernah turun. Dengan demikian segala perasaan yang masih ragu-ragu bahawa Rasulullah SAW sudah berpulang ke rahmat Allah, boleh dihilangkan.

Sumber Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal