Wednesday, August 1, 2018

Riba: Definisi dan Jenis-jenis Riba


Isu riba merupakan isu yang penting dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang Muslim. Ia mungkin sudah difahami oleh sebagian Muslim, tapi tidak dihayati untuk meninggalkannya. Riba merupakan suatu larangan yang bersifat mutlak oleh Allah SWT.

Apa itu Riba?

Apa Jenis-jenis Riba?

Apa hukuman bagi orang yang tidak mau untuk meninggalkan perbuatan Riba?

Apa itu Riba?

Pengertian ringkas riba ialah merupakan sesuatu tambahan di atas hutang akibat penangguhan tempo dan tambahan dalam pertukaran barangan tertentu (barang ribawi) (1).

Ia mencakup riba dari hutang (riba ad-Duyun) dan riba melalui pertukaran barang ribawi (riba al-Buyu’).

Apa yang dimaksud Riba ad-Duyun dan riba al-Buyu’?

1) Riba ad-Duyun
Riba jenis ini adalah riba yang muncul dari hutang. Ia merupakan kelebihan yang diperoleh disebabkan tempo. Ia terbagi kepada dua yaitu:

a) Riba al-Qardh: Yaitu sesuatu manfaat tambahan yang disyaratkan ke atas pemberian jumlah pinjaman pokok. Syarat ini dibuat pada awal kontrak pinjaman. Ia dikenakan oleh pemberi pinjam kepada yang meminjam.

Sebagai contoh, Ahmad ingin meminjam RP 100,000 dari Ali. Tetapi Ali menetapkan syarat bahwa Ahmad wajib membayar semula hutang tersebut sebanyak RP 120,000. Lebih RP 20.000 merupakan riba ad-Duyun jenis al-Qardh.

b) Riba al-Jahiliyyah: Merupakan kadar atau sesuatu manfaat tambahan lebih dari jumlah pokok, yang dikenakan oleh pemberi pinjam kepada peminjam akibat si peminjam gagal membayar pada tempoh yang telah dipersetujui.

Sebagai contoh, Ari setuju memberi pinjaman kepada Saini sebanyak RP 500.000 dan diharuskan membayar kembali satu bulan dari sekarang. Tetapi sekiranya Saini gagal membayar hutang Ari sebelum atau pada 1 bulan yang telah ditetapkan, maka Saini diharuskan membayar pada Ari sebanyak RP 600.000. kelebihan sebanyak RP 100.000 merupakan riba’ ad-Duyun jenis al-Jahiliyyah.

2) Riba al-Buyu'
Riba jenis ini pula muncul dari jual beli barang ribawi. Ia merupakan ketidaksamaan pada berat atau kuantiti pertukaran 2 barang ribawi atau pertukaran tersebut dibuat secara tangguh.

a) Riba an-Nasa’: Ia merupakan jual beli atau pertukaran 2 barang riwabi yang sama jenis dan pertukaran tersebut dibuat secara tangguh (tidak sempurna dalam 1 masa).

Sebagai contoh, Aminah membeli emas seberat 6 gram dengan harga RP 1,000,000 secara tangguh (maknanya, ambil emas hari ini, bayarnya bulan depan). Riba an-Nasa' juga disebut sebagai riba an-Nasiah.

b) Riba al-Fadhl: Merupakan jual beli atau pertukaran antara 2 barang ribawi yang sama jenis dengan berbeda bobot berat (jika dijual dengan timbang) atau kuantiti (jika dijual secara bilangan kuantiti).

Sebagai contoh, Menukar 10 gram emas (jenis 916) dengan 12 gram emas (jenis kualitas 750). Pertukaran jenis ini adalah haram kerana seharusnya kedua-duanya harus sama timbangan (contoh: 10 gram atau 12 gram). Perbedaan kualitas tidak memberikan kesan kepada hukum.

Terdapat 2 syarat yang wajib dipenuhi agar terhindar daripada riba al-Fadhl dan riba an-Nasa’, yaitu:

i) Harus sama berat atau kuantitasnya (walau berbeda kualiti dan harganya).

ii) Transaksi pertukaran harus dilakukan dalam satu masa atau satu majlis/tempat (maksudnya, pembeli dan penjual tidak boleh berpisah sebelum menyerahkan barang pertukaran).

Apa Ancaman Bagi Orang Islam Yang Mengamalkan Riba?

A) Allah dan RasulNya Mengisyaratkan Peperangan ke atas Pemakan dan Pemberi Riba.

Firman Allah swt:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkanlah (jangan menuntut lagi) sisa-sisa riba (yang masih ada pada orang yang berhutang) itu, jika benar kamu orang-orang yang beriman. Oleh itu, kalau kamu tidak juga melakukan (perintah mengenai larangan riba itu), maka ketahuilah kamu: Akan adanya peperangan dari Allah dan RasulNya, (akibatnya kamu tidak menemui selamat) dan jika kamu bertaubat, maka hak kamu (yang sebenarnya) ialah pokok asal harta kamu. (Dengan yang demikian) kamu tidak berlaku zalim kepada sesiapa dan kamu juga tidak dizalimi oleh sesiapa. (Surah al-Baqarah: 278-279)

Ini merupakan ancaman keras dari Allah. Bahkan merupakan ayat pengujian dari Allah bagi sesiapa yang  ingkar dengan perintahNya. Imam Abu Hanifah pernah berkata;” Ini adalah ayat al-Quran yang paling menakutkan.”

Tinggalkan riba jika kamu benar-benar mengaku sebagai hamba Allah.

B) Kehilangan Berkah Harta dan Kehidupan.
Firman Allah swt:

“Allah menghancurkan keberkatan kerana riba’ dan menambahkan keberkatan daripada sedekah.” (al-Baqarah: 276)

C) Seperti berzina dengan Ibu Bapak Sendiri.

Nabi saw Bersabda:

“Riba mempunyai 72 pintu. Riba yang paling ringan dosanya ialah seperti seorang lelaki berzina dengan ibunya.”
(Riwayat at-Tabrani, 7/158; al-Hakim, Shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim)

Mari kita buka mata dan hati, betapa beratnya ancaman Allah terhadap orang yang mengamalkan riba dalam kehidupan seharian.

D) Lebih berat dari 36 Kali Berzina.
Nabi saw bersabda:

” Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang lelaki dalam keadaan ia mengetahuinya lebih buruk daripada berzina sebanyak 36 kali.” (Riwayat Ahmad dan Ad-Dar Quthni)

E) Salah Satu dari 7 Dosa Besar.
Nabi saw bersabda:

” Jauhilah 7 dosa besar; syirik, sihir, membunuh tanpa hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan peperangan(kerana takut), dan menuduh perempuan yang suci berzina(tanpa saksi adil).” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pahami apa itu riba, jenis-jenisnya dan apa ancaman yang datang dari Allah dan Rasulnya bagi sesiapa yang mangamalkan riba dalam kehidupan meraka. dari mana sumber pendapatan kita selama ini. Semoga kehidupan kita bebas riba dan larangan-larangan yang lain.

Note: (1) Barangan ribawi adalah berkaitan dengan hadis Nabi saw yang bermaksud: “Apabila ditukar emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tamar dengan tamar, garam dengan garam mestilah sama timbangan dan sukatannya, dan ditukar secara terus(pada satu masa) dan sekiranya berlainan jenis, maka berjual belilah kamu sebagaimana disukai.” (Riwayat Muslim nombor 4039, nomor hadis, 11/9)

Engkau Menggigitnya & Ia Menggigitmu," Ujar Rasulullah


Mari kita lihat kisah pernikahan Uqail bin Abu Talib dengan seorang wanita dari kalangan Bani Jasym. Seperti biasanya upacara perkahwinan, tamu-tamu berdatangan. Dan seperti biasanya upacara perkahwinan di masa sekarang, para tamu ketika itu memberi ucapan selamat sekaligus sebagai do'a.

"Semoga bahagia dan banyak keturunan," kata para tamu kepada pengantin laki-laki.

Menerima ucapan selamat seperti itu, Uqail akan teringat Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian ia berkata, "Jangan kamu mengatakan demikian, kerana sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang hal tersebut."

"Kalau demikian," kata mereka, "apakah yang harus kami katakan, wahai Abu Zaid?"

"Katakanlah," jawab Uqail. "Semoga Allah membarakahi anda sekalian dan melimpahkan barakah kepada anda. Demikian yang diperintahkan kepada kita. "

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahawa yang paling penting untuk dicari dalam perkahwinan bukan kebahagiaan. Yang paling penting justeru barokah, konsep yang sangat sering terdengar tetapi tidak banyak diketahui artinya. Mendo'akan pengantin baru agar dapat mencapai pernikahan yang bahagia dan sekaligus banyak anak dilarang (makruh). Sebaliknya, sunnah bagi kita mendoakan saudara kita yang nikah dengan do'a barakah. Mudah-mudahan pernikahan itu barakah bagi pengantinnya dan barakah atas pengantinnya, yakni barakah pernikahan tersebut juga terasakan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Kalau begitu, apakah "bahagia dan banyak anak" merupakan kata yang tabu dalam perkahwinan yang Islami? Bukan begitu. Melalui lisan suci Rasulullah SAW Islam justeru mengingatkan kita agar tidak melupakan kriteria memilih isteri agar dapat memperoleh kesenangan dan banyak anak.

"Nikahilah wanita yang subur rahimnya (waluud) dan pencinta," sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, An-Nasa'i dan Al-Hakim. "Sebab aku kelak berbanyak-banyak kepada umat-umat lain dengan kamu."

Rasulullah SAW juga pernah menganjurkan, "Pilihlah yang masih gadis kerana ia lebih manis mulutnya, lebih dalam kasih-sayangnya, lebih terbuka, dan lebih menginginkan kemudahan."

Yang dimaksudkan dengan "mulut manis" adalah ucapannya, kata Abdul Hamid Kisyik. Adapun yang dimaksudkan dengan "lebih dalam kasih-sayangnya" adalah banyak melahir-kan anak, terbuka, dan polos.

Ketika seorang sahabat memberitahu Rasulullah bahawa ia baru saja menikah dengan seorang janda, Rasulullah SAW mengatakan, "Mengapa tidak gadis yang ia boleh bermain denganmu, dan engkau boleh bermain dengannya, engkau menggigitnya dan ia menggigit kamu?" (HR An-Nasa'i, sahih).

Sebagian sahabat Nabi memberi keterangan, Tetaplah kamu menikahi gadis-gadis, sebab mereka lebih manis mulutnya, lebih rapat rahimnya, lebih hangat vaginanya, lebih sedikit tipuannya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit.

Keterangan sahabat ini senada dengan hadis Nabi yang mengingatkan:

"Kahwinilah oleh kalian dara, sebab perawan itu lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya, lebih hangat faraj-nya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit," (HR. Abu Na'im melalui Ibnu Umar ra. Semak Mukhtarul Ahaadits).

Yang dimaksudkan dengan lebih rapat rahimya (antaqu ar-haman) adalah banyak melahirkan. Umar bin Khaththab menganjurkan, "Perbanyaklah anak kerana kalian tidak tahu dari anak yang mana kamu mendapatkan rezeki."

Anak yang barakah adalah rezeki akhirat sekaligus rezeki dunia. Kita tidak tahu anak yang mana yang paling besar membawa rezeki, sehingga boleh mengangkat kita kepada kebahagiaan akhirat.

Masih ada hadis-hadis mengenai kesenangan-kesenangan yang boleh diperoleh ketika menikah dan perlu dipertimbangkan ketika akan melangkah ke sana. Allah SWT. juga telah berfirman, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepa-danya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Surah Ar-Ruum [30]: 21).

Tetapi ada yang unik. Kita dilarang mendoakan orang yang menikah agar mendapat kebahagiaan dan banyak anak dalam pernikahannya. Kita diminta untuk mendoakan mereka semoga Allah membarakahi pengantin itu dan melimpahkan barakah bagi mereka. Yang pertama, mendoakan agar mereka menjadi suami isteri yang penuh barakah, sehingga sekelilingnya ikut terkena barakahnya. Yang kedua, berdoa-kan agar mereka mendapatkan barakah. Wallahu A'lam bisha-wab.

Mengapa kita disuruh mendoakan dengan doa barakah dan tidak dengan do'a banyak anak, padahal ada beberapa anjuran untuk memperbanyak anak? Sekali lagi, Allahu A'lam bishawab.